Petani Tebu Geruduk Istana Negara, Stop Impor Gula

0
10

Berita7.id – Ratusan bahkan ribuan petani tebu di seluruh Indonesia mengeluarkan suaranya dan melakukan aksi demonstrasi tepatnya Jakarta Pusat, di depan gedung Istana Negara Indonesia, pada hari Senin (28/8/2017). Para petani menggunakan seragam kaos putih serta topi merah dan ada juga yang menggunakan topi petani saat menyuarakan aspiranya terhadap kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah.

Salah satu petani dari Blitar mengeluarkan suaranya bahwa dari aksi demontrasi ini, mereka ingin agar harga gula tetap sekitar Rp 11.000,- per kilogramnya, dan tidak ada lagi impor gula rafinasi, karena bagi mereka itu akan memebrikan efek yang merugikan petani tebu di Indonesia. Dari pernyataan salah satu petani tersebut memang ketika semuanya impor, darimana para petani tebu di Indonesia akan mendapatkan penghasilan bila semua yang dibutuhkan masyarakat selalu impor, tidak menggunakan produksi asli petani Indonesia saja.

Ketua umum Anadalan Petani Tebu Rakyat Indonesia atau sering disebut dengan singkatan APTRI Sumitro Samadikun menyatakan bahwa pula produksi para petani Indonesia sendiri kini telah kehilangan akses pasar karena adanya produksi gula impor. Dan beliau juga mengatakan bahwa produksi gula impor, yang merupakan rembesan rafinasi telah menguasai pasar konsumsi di Indonesia.

Sumitro Samdikun juga mengungkapkan saat berada di depan istana negara, bahwa yang menyebabkan harga gula turun salah satunya adalah adanya PPN, namun, sekarang gula tani sudah bebas PPN. Beliau mengungkapka bahwa harga gula pada tahun ini turun drastis sekitar Rp 9.000 sampai Rp 9.500 oer kilogramnya. Berbeda jauh sekali dengan harga gula di tahun 2016 yang mencapai Rp 11.000 hingga Rp 11.500 erkilogramnya. Hal itu diungkapkan sumitro pada Senin (28/8/2017).

Selain itu Sumitro juga mengatakan dalam aksi demonstrasi bahwa kini terdapat kerugian yang sangat besar, yaitu 2.000 per kilogramnya jika dikalikan dengan seluruh produksi gula tani Indonesia sekitar 1 juta ton gula, maka kerugiannya mencapai 2 triliyun. Angka yang sangat besar dari penurunan serta kerugian para petani tebu Indonesia.

Dari segala pernyataan Sumitro tersebut bahwa dengan adanya gula impor, seluruh petani tebu merasakan kerugian dan penurunan sangat drastis. Karena dengan adanya impor secara terus menerus maka gula tani musim giling di tahun 2017 ini tidak dapat terserap dipasaran, atau dengan kata lain tidak laku dipasaran. Jika hal ini tidak dapat ditindak lanjuti oleh pemerintah, maka para petani lokal dalam negeri kita akan minim sekali penghasilan per harinya. Harapan dengan adanya aksi demonstrasi para petani tebu Indonesia ini, agar pemerintah tidak mengimpor gula lagi. Karena dari negara kita sendiri pun mampu untuk memproduksi gula yang cukup.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here