GP Ansor Mengutuk Keras Tragedi Kemanusiaan Terhadap Muslim Rohingya

0
6
genosida rohingya

Berita7.id – Gerakan Pemuda Ansor atau akrab disebut GP Ansor mengajak umat islam di Indonesia untuk melaksanakan Salat Gaib. Salat Ghaib itu ditujukan kepada para korban etnis Rohingya yang telah direnggut kebebasannya sebagai manusia.

“Salat gaib untuk para korban tewas, mengirimkan doa khusus dan juga membaca Hizb Nasr agar para korban mendapat ketenangan. Agar para korban terluka ringan maupun berat segera mendapatkan kesembuhan dan korban hilang dapat ditemukan dalam keadaan hidup,” ujar Wakil Sekjen GP Ansor Mahmud Syaltout dalam keterangannya, Senin (4/9).

Mahmud juga mendoakan agar etnis Rohingya mendapatkan perdamaian abadi dan dapat pulang ke tanah mereka dengan jaminan keamanan dan perlindungan.

“GP Ansor mengutuk keras tragedi kemanusian terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya di Myanmar sekaligus mengajak kita semua untuk menyatukan hati, tekad, semangat dan usaha #KitaIniSama satu tujuan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial serta tentu saja tidak memilih diam terhadap setiap ujaran kebencian, permusuhan dan persekusi terhadap minoritas,” tegasnya.

Lebih jauh, Mahmud mengungkap nestapa Rohingya merupakan tragedi kemanusiaan terparah di kawasan Asia Tenggara. Ia menduga ada campur tangan negara, baik aparat militer, keamanan, kepolisian maupun pemerintahan Myanmar, setidaknya didasarkan pada laporan pengindraan secara satelit oleh UNOSAT maupun HRW, terdapatnya pola-pola (patterns) serangan terhadap desa-desa etnis Rohingya yang memang telah ditargetkan.

“GP Ansor juga mempelajari konflik geopolitik yang sangat berdarah di daerah-daerah kaya sumber daya alam khususnya minyak dan gas (Oil & Gas Blood) atau kutukan sumber daya (Resource Curse) bukan fenomena khas Myanmar, dan bukan hanya menimpa etnis Rohingya, tapi juga terjadi di belahan bumi yang lain, di mana untuk menutup operasi apropriasi kapital dan sumber daya secara menjijikkan operator-operator di lapangan membungkus dan/atau menutupnya dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat dengan tujuan agar akar maupun persoalan sebenarnya menjadi kabur dan tersamar,” tuturnya.

“Tragedi kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya karena situasi di mana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas, Aung San Sukyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakkan dari diamnya mayoritas,” tandas Mahmud. [M]

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here