Mengapa Cepat Menyerah dengan Buaya?

0
1
Mengapa Cepat Menyerah dengan Buaya?

Berita7.id Terus bergulirnya pembahasan revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK mendapat tentangan dari berbagai pihak, termasuk para akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebab poin-poin dalam revisi itu dinilai melemahkan KPK.

Para akademisi UGM pun menyampaikan bentuk protes dalam aksi di Balairung UGM pada Minggu (15/9).

Dalam aksi yang turut dihadiri para mahasiswa itu, beberapa dosen bergantian menyampaikan orasi. Tetapi ada pula yang menyampaikan bentuk protesnya dalam bentuk puisi, dosen itu ialah Guru Besar Fisipol UGM, Prof Wahyudi Kumorotomo.

Puisi itu secara eksplisit mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mendukung rencana revisi UU KPK. Wahyudi mengingatkan Jokowi yang merupakan alumni UGM tahun 1980 untuk tidak tunduk terhadap tekanan politik yang menginginkan revisi UU KPK.

Berikut isi puisi yang berjudul Mas Joko, Kami Mengandalkanmu:

Hari-hari ini, kami di Bulaksumur bersedih

Hari-hari ini, kami di bawah cemara tujuh berduka

Kami adalah adik-adik kelasmu

Kami adalah teman-teman kuliahmu

Kami adalah saudara-saudaramu

Kami adalah rakyat Nusantara di bawah panji Gadjah Mada

Kami baru saja memilihmu sebagai pengayom rakyat di Nusantara

Kami baru saja mengangkatmu menjadi manusia setengah dewa

Mengapa begitu cepat engkau meninggalkan kami?

Mengapa begitu cepat engkau berkawan dengan para raksasa politik?

Mengapa begitu cepat engkau menyerah di cengkeraman buaya?

Ingatkah ketika kita sama-sama menikmati nasi-kucing

Menikmati gudeg

Menikmati mie dingin

Di lembah Bulaksumur

Di selokan Mataram

Di atas puncak Merbabu

Ketika itu engkau bicara tentang hutan-hutan kita yang mengering

Tentang ketidakadilan

Tentang rakyat yang makan nasi-aking

Tentang keinginan mengubah nasib bangsa

Kami minta engkau lindungi punggawa anti-rasuah kami

Kami minta engkau lindungi rakyat Nusantara

Kami minta engkau dengarkan nuranimu

Dengarkanlah rerumputan di Bulaksumur

Kuatkan hatimu

Kobarkan nyalimu

Mas Joko, kami mengandalkanmu…!

Saat dikonfirmasi, Wahyudi mengatakan isi puisi itu bertujuan agar Jokowi bisa melindungi KPK, bukan justru memperlemahnya. Sebab saat ini, kata Wahyudi, KPK merupakan lembaga penegak hukum yang benar-benar dipercaya masyarakat.

“Saya berharap presiden melindungi KPK sebagai lembaga yang dipercaya publik. Kalau ada revisi harus cermat, jangan sampai melemahkan dan menghabisi KPK,” ujar Wahyudi saat dihubungi Senin (16/9).

Wahyudi menilai saat ini hidup mati KPK berada di tangan Jokowi. Ia meminta Jokowi tidak salah melangkah atas dasar tekanan politik.

“Bola ada di Presiden, saya berharap Presiden betul-betul bisa melihat secara lebih jernih,” tutupnya. (kp)

0/5 (0 Reviews)
Please Login to comment
  Subscribe  
Notify of