Perangi Hoax Jika Ekonomi Ingin Kredibel

0
269
perangi-hoax

Berita7.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai di tengah berkembangnya teknologi informasi membuat berita hoax makin menjamur. Hal ini, dapat memengaruhi keputusan dari para pelaku ekonomi termasuk pengambil kebijakan.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan, berita hoax dapat membentuk persepsi dan respons pelaku ekonomi yang tidak konsisten akibat diserbu oleh data dan informasi yang bertubi-tubi. Perilaku menjadi berubah dengan cepat dan akibatnya ketidakpastian jadi meningkat.

“Tidak lagi sekadar menjelaskan tetapi juga harus mampu memerangi berita hoax dan memenangkan perang tersebut dengan efektif jika kebijakan ekonomi kita ingin kredibel,” ujarnya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (25/9/2018).

Pada era ini, reaksi pelaku ekonomi menjadi sulit diprediksi karena asumsinya bisa dengan mudah berubah akibat masuknya data dan informasi baru. Hal ini didukung dengan maraknya penggunaan internet sehingga informasi dapat diakses kapan pun.

Jika membandingkan dengan situasi sebelum tahun 1997, terlihat bahwa situasi lingkungan ada yang memang berubah sangat drastis. Terutama jika dilihat dari sudut pandang tahapan perkembangan teknologi informasi.

Pada akhir 90an, masyarakat hidup dalam sistem di berbagai sektor termasuk ekonomi yang tersentralisasi. Hal ini membuat arus data dan informasi lebih tersetruktur dan pemahaman masyarakat atas cara bekerjanya berbagai lembaga ekonomi dan sosial masih belum tinggi.

“Akibatnya, peran otoritas cenderung lebih dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku pelaku ekonomi,” ucapnya.

Sementara saat ini, harus berhadapan dengan situasi di mana hidup dalam alam yang semakin terdesentralisasi. Saat ini informasi tidak lagi eksklusif dimiliki oleh otoritas atau lembaga resmi tetapi data dan informasi dibuat, diolah dan disebarkan oleh masyarakat luas melalui alat-alat komunikasi mobile.

“Cara bekerja lembaga-lembaga pemerintahan dan sosial ekonomi juga menjadi lebih transparan dan makin dipahami oleh masyarakat,” tuturnya.

Persoalan menjadi lebih serius saat ini jika melihat serbuan data dan informasi ke tangan masyarakat yang tidak sepenuhnya benar. Untuk itu, para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan dituntut untuk lebih teliti dalam menerima informasi.

Komentar Anda